Only Share

Sekedar Berbagi Agar Berarti

Bidadari-Bidadari Surga yang Disegerakan Part 2

1.       Wanita Shalihah: Pesona Diatas Pesona
Ia mutiara terindah dunia
Bunga terharum sepanjang masa
Ada cahaya di wajahnya, Betapa indah pesonanya
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya
Kelak, ia menjadi bidadari surga, Terindah dari yang ada
(Hanan)

Ya, bidadari surga yang Allah segerakan berikutnya adalah wanita shalihah. Konteks tulisan ini sama sekali bukan tentang fisik. Kita hanya akan membahas hal-hal substansial yang bernama kesalehan. Untuk itu, cukuplah dialog penuh ‘ibrah antara Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang didokumentasikan oleh Imam Ath-Thabrani sebagai pecut penyemangat, pengobar ruh kesalehan.

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Wahai Rasulullah, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jelaskanlah kepadaku firman Subhanahu wa Ta’ala tentang bidadari-bidadari yang bermata jelita.” (QS. Ad-Dukhan:54) Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”

Aku berkata lagi, “ Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, “Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (Al-Waqi’ah : 23) Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

Aku  berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahman : 70) Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”

Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku firman Allah, “Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik.” (Ash-Shaffat : 49) Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, Penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Al-Waqi’ah : 37) Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Aku bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga? Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya”. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat."

Kesalehan dan akhlak baiklah sumber kemuliaan, semoga kita dapat meraihnya. Amiin.

Bojong Sari, 10 Shafar 1433 

Bidadari-Bidadari Surga yang Disegerakan Part 1

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda: “Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita.” (HR. Al-Bukhari)

Wanita adalah sebuah mahakarya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dibalik kelembutannya ada kekuatan yang dapat menggerakkan sebuah laju peradaban. Islam dengan segala kemuliaannya telah berhasil meletakkan dengan ideal posisi kaum wanita dalam gempita kehidupan. Dan fakta sejarah pun mengungkapnya dengan elok, bahwa disetiap keberhasilan orang-orang besar selalu ada wanita-wanita kuat dibelakangnya. Tapi, tidak semua wanita berkenan menempati posisi-posisi itu. Dengan hadirnya racun-racun demokrasi, omong kosong HAM atau bualan feminisme, wanita telah kehilangan karakater-karakter dasar kemanusiaannya. Fungsi-fungsi wanita telah terdistorsi dari letak fitrahnya.

Namun, ditengah kerusakan pemahaman yang semakin kuat, ada sebagian wanita yang tetap menjunjung tinggi martabat mereka. Memelihara nilai-nilai kefitrahan mereka sebagai seorang hamba. Pengorbanan dan perjuangan telah menjadikan para wanita-wanita ini bak bidadari-bidadari surga yang Allah segerakan kehadirannya. Inilah wanita-wanita yang membuat resah para bidadari-bidadari  Surga karena kemuliaannya. Menerbitkan cemburu di ufuk hati para bidadari Surga.

1.       Ibu: Oase Cinta Yang Takkan Kering

“Makan malamlah bersama Ibumu hingga ia senang.
 Hal itu lebih aku senangi daripada haji sunnah yang kamu kerjakan.”
(Al-Hasan bin Amr Rahimahullahu)

Hijrah bukan semata keputusan ideologis-teologis, lebih jauh hijrah adalah sebuah keputusan psikologis, terlebih dalam konteks disaat kita dalam posisi seorang anak. Dan hal inilah yang dirasakan oleh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dari  Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku berjanji setia kepadamu wahai Rasulullah untuk berhijrah. Tetapi aku meninggalkan orang tuaku dalam keadaan terus menangis.” Ucap lelaki itu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Pulanglah kepada keduanya. Buatlah keduanya tertawa, sebagaimana kau telah membuatnya menangis.” (HR. Muslim)

Ibu, adalah representasi bidadari surga yang paling terang. Hatinya adalah oase cinta kehidupan yang menyejukkan, airnya bening dan tak pernah menemui kekeringan. Kasih sayang dan pelukannya adalah hembus angin kedamaian. Jasa-jasanya takkan pernah dapat terbilang, sekalipun dengan formula-formula canggih matematika atau fisika modern.

Imam Bukhari dalam Shahih Al Adabul Mufrad No.9 meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa suatu hari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma melihat seorang menggendong Ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja sang Ibu menginginkan. Kemudian orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?”, “Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

Pada kisah lain yang diceritakan Abul Faraj Rahimahullahu. Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Umar lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai ibu yang sudah tua renta. Dia tidak menunaikan kerperluannya kecuali punggungku yang menjadi tanggungannya. Apakah aku sudah membuatnya ridha dan bisa berpaling darinya? Apakah aku sudah menunaikan kewajiban kepadanya?” Umar Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Belum” . “Bukankah aku telah membawanya dengan punggungku dan aku merelakan hal itu untuknya.” tukas lelaki itu. “Tapi, dia telah melakukannya dan dia berharap agar engkau hidup dan tetap berada dipangkuannya. Sebaliknya, engkau melakukannya dan berharap untuk segera berpisah dengannya,” tegas Umar Radhiyallahu ‘Anhu, sehingga membuat orang itu tak lagi sanggup mengeluarkan kata-kata.

Sebesar apapun pengorbanan yang kita berikan pada Ibu, se-zarah pun tak akan dapat menggantikan pengorbanan yang diberikan ibu kepada kita. Dengan memahami bahwa bakti dan pengorbanan kita tak akan pernah bisa membalas kebaikan ibu, semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu memahami dan menyelami keinginannya.

Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih seindah cinta kasih seorang Ibu. Tentang hal ini dengan apik Imam Adz Dzahabi rahimahullahu menguraikan, “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang serasa sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan, dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang panjang. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka ia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu agar mendapat petunjuk, baik didalam sunyi maupun ditempat terbuka. Tatkala ibumu membutuhkanmu disaat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan ia haus. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Begitu berat rasanya bagimu memeliharanya, padahal itu urusan yang mudah…”

Ibu, benar-benar bidadari Surga yang Allah turunkan dengan segera. Maka, sampaikanlah kepadanya betapa kita mencintainya, dan berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya kepada kita. Semoga Allah mengampuni dosanya, memberkahi usianya, dan mengumpulkan kita kembali dalam surgaNya.

Ibu, Poros Awal Peradaban

“Karir terbaik seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga” (Mario Teguh)

Keluarga yang unggul hanya akan lahir dari ibu yang unggul. Maka, sudah semestinya tidak layak lagi ada pandangan bahwa menjadi Ibu rumah tangga adalah sebuah tindakan pengekangan bagi para wanita untuk mengembangkan potensi-potensinya. Adalah para penganut feminisme, menggugat secara serampangan pembagian wilayah tanggung jawab antara kaum pria dan wanita. Para feminis beranggapan wilayah kerja wanita yang lebih cenderung pada ranah private adalah bentuk ketidakadilan terhadap kaum wanita. Lebih jauh mereka beranggapan melalui keikutsertaan wanita pada ranah publik dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas kaum wanita. Benarkah demikian?

Saya selalu ingat apa yang dikatakan ibu saya, “Perempuan bagiannya dirumah, sedang laki-laki diluar rumah.” Sepintas terdengar sangat diskriminatif. Tapi, makin lama saya makin paham bahwa inilah yang dimaksud Job Descpription. Layaknya sebuah organisasi, keluarga pun mutlak memiliki job description. Dan hal yang harus kita pahami adalah tidak ada yang menjamin seorang yang memiliki wilayah kerja di sektor publik akan memiliki kemuliaan dan kualitas lebih baik dari seorang ibu yang memiliki wilayah tanggungjawab pada sektor privat. Karena semua kemuliaan mutlak hanya akan dipetik dari ketaqwaan dan ketaatan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita dapat renungkan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam QS. An-Nisaa’ ayat 32, Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ibu, sebagai seorang ‘manajer’ rumah tangga adalah sebuah entitas terpenting dalam konteks pembentukan sebuah generasi. Tanpa seorang ibu yang berkualitas takkan lahir para manusia-manusia berkualitas. Ibulah, madrasah peradaban yang paling awal. Dari para ibulah cetak biru sebuah poros peradaban ditentukan. Kesungguhan para ibu men-tarbiyah keturunnannya adalah langkah nyata rekonsiliasi sebuah bangsa. Dan kerja-kerja macam ini, bahkan para bidadari surga pun belum tentu mampu melakukannya. Dengan kesungguhan inilah, bahkan para bidadari pun akan mencemburuinya.

Bojong Sari,  10 Shafar 1433

Daar al Islam Masa Kini (Bagian 1)

Letaknya diperbukitan shofa, Jauh dari seluruh hiruk pikuk dan gempita kejahiliayahan masyarakat Mekah era itu. dan dari kediaman sederhana inilah sebuah peradaban mulia terlahir. Dar Al Arqom nama bangunan itu, milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam salah seorang sahabat mulia, beliau adalah orang ketujuh dalam generasi As Sabiqunal Awalun. Pasca keislamannya Dar Al Arqom berubah nama menjadi Dar al Islam.
Bangunannya begitu sederhana, tapi dari kesederhanaanya berjuta makna telah tercipta. Letaknya begitu jauh dari gempita dan pesta foya, tapi darinya ada kebijaksanaan mengemuka.

Tapi sekarang, saya temukan replika itu semua. Jika Rasulullah dan para sahabat agung punya Dar al Islam maka kita punya STEI SEBI. teramat jauh memang, tapi cita, asa, dan makna yang teringin dicipta tetaplah sama.

Dari Dar al Islam, kita temukan keyakinan sejernih Abu Bakar dan keberanian sebaja Umar. Dari Dar al Islam tercipta kelembutan hati Utsman dan kecerdasan Ali bin Abi Thalib. Dar al Islam menarik manusia langit hadir di bumi. memenuhi bumi dengan makna-makna sejati kehidupan.

Di SEBI, lagi, saya temukan replika-replika itu. lagi-lagi, teramat jauh memang, tapi cita, asa, dan makna yang teringin dicipta tetaplah sama. Disini, kita berbagi rasa dan makna, berjuang mencipta asa dalam kelelahan-kelelahan yang dirasa, dalam kekecewaan dan penat yang sering pula menyapa.

Di kampus ini, ada orang-orang inspiratif yang punya gagasan dan hati cemerlang. Dalam kesederhanaan mereka telah ditemukan kemegahan kehidupan. sedikit saja, ingin saya sampaikan sebuah kisah ini sebagai tanda kesyukuran kepada Allah, atas taqdirnya yang Maha Indah. Maka, Perkenalkanlah, inilah saudara-saudara terbaik ku...

bersambung...
Depan Ruang Akademik, 10 Muharram 1433

Rindu Yang Tak Akan Pernah Tersia

Duhai, adakah aku bisa bermalam disana semalam saja
Di dusun Fakh yang disekelilingnya ada pohon Ikhzir dan Jalil
Dan apakah aku bisa mendatangi air Mijannah suatu hari nanti
Agar tampak bagiku bukit Syamah dan Thafil
(Syair Kerinduan Bilal bin Rabah pada Mekah diawal-awal hijrah ke Madinah)

Waktu itu cuaca Mekah tidak sangat panas. Meski ada terik, disaat-saat tertentu angin berhembus, menciptakan jenak-jenak kesegaran, utamanya bagi ratusan ribu jamaah haji. Dan satu diantara 600an ribu jamaah haji saat itu adalah seorang ulama masyhur, Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh. Beliau adalah memang seorang ulama yang kaya raya, maka baginya berziarah ke Mekah bukan hal yang sulit kendatipun tempat tinggalnya jauh dari Mekah.

Saat itu, setelah melakukan serangkaian ritual ibadah haji Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan melakukan percakapan diantara mereka. “Ada berapa orang yang berhaji tahun ini?” tanya malaikat pertama kepada temannya. “Ada enam ratus ribu,” jawab temannya. “Berapa diantara mereka yang diterima hajinya?” tanya yang pertama lagi. “Tak satupun,” tegas malaikat kedua.

Jawaban itu membuat Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh risau bercampur rasa takut. Dia kaget dan menangis. “Bukankah mereka datang ke tanah suci ini dengan penuh rintangan dan ujian? Mengapa usaha mereka menjadi sia-sia?” gumamnya dalam mimpi itu. Tapi kemudian ia dikejutkan oleh suara malaikat kedua, “Kecuali seorang sepatu di Damaskus yang bernama Ali bin Muwaffaq. Dia memang tidak datang berhaji, namun haijnya diterima dan seluruh dosanya diampuni. Bahkan, lantaran dia maka ibadah seluruh jamaah haji diterima Allah.” Mendengar itu Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh bagitu takjub, seketika ia terbangun dari tidurnya. Usai menuntaskan hajinya, ia bergegas ke Damaskus, mencari sosok Ali bin Muwaffaq. 


Cukup lama ia mencari, namun akhirnya ia temukan juga lelaki itu. Setelah menyapa dengan salam, ia bertanya, “Siapakah namamu dan apakah pekerjaanmu?” lelaki itu menjawab, “Ali bin Muawaffaq, aku seorang penjual sepatu. siapakah tuan?” kata Ali balik bertanya. Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya.Setelah lelaki itu mendengar penjelasannya dan tahu dengan siapa ia berhadapan, tiba-tiba ia menangis dan jatuh pingsan. Setelah sadar, Ibnu Al-Mubarok rahimahulloh meminta agar ia menceritakan bagaimana keutamaan itu bisa ia dapatkan.


“Selama 40 tahun aku telah rindu untuk berhaji. Dan untuk mewujudkan rindu itu, aku telah mengumpulkan biaya perjalanan sebesar 350 dirham, hasil dari berdagang sepatu. Maka tahun ini aku memutuskan untuk berangkat ke Mekah. Namun, suatu hari istriku yang sedang hamil mencium aroma masakan yang lezat dari salah seorang tetangga. Istriku sangat berhasrat mencicipinya. Akupun pergi ke ruma tetangga itu untuk sekedar meminta sedikit saja masakannya.


Tapi ketika kusampaikan maksudku, tetangga itu menangis, “Sudah tiga hari ini anak-anakku tidak makan apa-apa. Dan hari ini, aku menemukan bangkai keledai tergeletak, lalu memotongnya dan memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Katanya padaku. Aku pun iba kepadanya dan merasa sangat bersalah karena tidak memperhatikannya. Maka uang 350 dirham kuberikan kepadanya. “Ini biaya perjalanan ibadah hajiku tahun ini, belanjakanlah untuk anak-anakmu. Pintaku kepadanya” Mendengar kisah itu Abdulloh bin Al-Mubarok rahimahulloh berujar, “Sungguh benar penguasa kerajaan surga dalam keputusan-Nya.” 
●●●

Kerinduan berhaji adalah sebuah keniscayaan bagi keimanan kita. Inilah kerinduan yang harus tetap terjaga, tak peduli apa atau bagaimana keadaan kita. Kerinduan berhaji adalah kerinduan yang tak pernah tersia se-zarah pun, karena seandainya jasad ini tak menggapainya, Allah pasti tidak akan mengabaikan rindu ini. seperti Ali bin muwaffaq, fisiknya memang tak dapat hadir dalam ibadah haji, tapi kerinduan dan ketulusannya akan tanah suci telah terbayar kontan oleh Allah langsung.

Kerinduan pada tanah suci adalah kerinduan menembus batas waktu dan ruang. Karena disanalah napak tilas keteladanan Ibrahim dan Ismail dapat kita resapi. Disanalah jejak romantika kehidupan Rasulullah dan para sahabat kita dapati. Maka demi Alloh, rindu pada tanah Mekah yang suci dan kota Madinah yang terberkahi adalah pola rindu yang harus tetap ada dalam hati, tak peduli apa dan bagaimana kondisi kita. Wahai Allah, perkenankanlah kami berziarah di rumah-Mu dan kota rasul Mu, Amiin…


Bojongsari, 17 Dzulhijjah 1432